Jakarta, 12 Januari 2026 — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (kode saham: GOTO) kembali mencuri perhatian pasar modal setelah menunjukkan perbaikan kinerja fundamental yang signifikan sejak 2024, dengan momentum yang terus berlanjut sepanjang 2025. Perusa
GoTo (GOTO) dinilai sebagai calon saham multibagger di Indonesia. Analisis fundamental terbaru menunjukkan perbaikan pendapatan, EBITDA positif, dan potensi pertumbuhan jangka panjang meski menghadapi persaingan ketat.
haan teknologi terbesar di Indonesia ini dilihat sebagai calon saham multibagger oleh sejumlah analis karena transformasi bisnisnya dari perusahaan yang merugi menjadi mendekati atau bahkan mencapai profitabilitas operasional.
GoTo, yang memadukan layanan ride‑hailing (Gojek), dan layanan finansial digital (GoPay & GoFinance), berhasil mencatatkan beberapa indikator keuangan penting yang menunjukkan perbaikan fundamental. Ini menjadi katalis menarik buat investor jangka menengah‑panjang yang mencari saham berpotensi melipatgandakan nilai investasi (multibagger).
Perubahan Kinerja Keuangan — Dari Rugi ke Profit
GoTo mencatatkan adjusted EBITDA positif Rp386 miliar pada 2024, menandai profitabilitas operasional pertama dalam sejarah perusahaan setelah bertahun‑tahun rugi besar. Pendapatan tumbuh sekitar 30%, sedangkan nilai transaksi (GTV) meningkat 58% dari tahun sebelumnya.
1Q & 2Q 2025: Momentum Bertumbuh
Laporan kuartal pertama dan kedua 2025 menunjukkan pertumbuhan yang terus berlanjut:
Gross Transaction Value (GTV) tumbuh lebih dari 40–50% YoY di beberapa periode.
Adjusted EBITDA meningkat tajam menjadi ratusan miliar rupiah, bahkan EBITDA positif selama beberapa kuartal berturut‑turut.
9 Bulan 2025: Bukti Keberlanjutan
Menurut riset analis, hingga 9M25 GoTo menguatkan target adjusted EBITDA di Rp1,8–1,9 triliun dan bahkan mulai mencatat laba sebelum pajak yang positif, memperteguh bahwa perbaikan kinerja tidak hanya bersifat musiman.
Analisis Fundamental GoTo
1. Revenue & Margin MembaikGoTo berhasil meningkatkan pendapatan bersih sambil mengendalikan biaya, sehingga adjusted EBITDA beralih dari kerugian menjadi positif. Margin operasi semakin membaik setiap kuartal—ini menandakan bahwa model bisnisnya mulai scalable dan efisien.
2. Diversifikasi Bisnis
Pendapatan GoTo berasal dari tiga pilar:
Ride‑hailing & delivery
Sektor fintech memberi potensi arus kas besar di masa depan karena layanan kredit & dompet digital cenderung memiliki margin lebih tinggi daripada bisnis ride‑hailing.
3. Strategi Efisiensi
GoTo menekan biaya melalui migrasi cloud ke Alibaba dan Tencent, yang diharapkan mengurangi biaya IT tahunan lebih dari 50%. Pengendalian biaya ini membuka ruang margin yang lebih baik ke depannya.
4. Program Share Buyback
Perusahaan melakukan program buyback saham besar, yang bisa menjadi sinyal kuat bahwa manajemen yakin sahamnya undervalued di pasar.
5. Potensi Konsolidasi / Merger
Rumor dan pembicaraan soal kemungkinan merger atau kerja sama strategis (misalnya dengan Grab) bisa menjadi katalis harga jika terealisasi. Walaupun belum pasti, skenario tersebut dipandang sebagai potensi value unlock.